Selamat dan Sukses Wisuda Purnawiyata Ke-28 SMK Islam 1 Durenan
Semoga menjadi ilmu yang bermanfaat dan membawa keberkahan

Qasidah Burdah, Puncak Sastra dalam Nafas Cinta

Diposting pada: 2018-05-19, oleh : Admin2, Kategori: Khazanah Ulama

Maulayaa sholli wasallim daa-iman abadaa, 'alaa habiibika khoiril kholqi kullihimi. Huwal habiibul ladzii turjaa syafaa'atuhuu, likulli haulim minal ahwaali muqtahimi.

Wahai Tuhanku limpahkanlah shalawat dan salam kepada kekasihMu sebaik-baik makhluk semuanya. Dialah Sang Kekasih yang diharapkan syafa’atnya dari setiap huru-hara yang menimpa.

Itulah dua bait syair yang merupakan penggalan qosidah Burdah yang begitu akrab di telinga kita. Dilantunkan di seantero penjuru jazirah kaum muslimin, Burdah merupakan salah satu karya sastra tingkat tinggi yang menunjukkan luapan cinta kepada Sang Baginda Nabi. Di ta'lif oleh seorang ahli Fiqh dan ahli bahasa Arab yang ulung, sekaligus murid thoriqoh Syadziliyah, untaian Burdah benar-benar menghimpun dalamnya dzauq yang pantas dirasakan oleh sang pecinta. Begitulah, gabungan kepiawaian dari keilmuwan dan sisi sufistik muallif-nya telah kental mewarnai tiap bait pujian Burdah yang begitu megah.

Adalah Abu ‘Abdillah Syarafuddin Muhammad bin Sa’id bin Hammad bin Muhsin bin ‘Abdullah bin Shanhaj bin Hilal As Shanhaji Al Bushiri, sang maestro dari qasidah Burdah ini. Beliau lahir di Dalaash pada awal bulan Syawal, tahun 608 H/1211 M. Dikarenakan beliau selanjutnya dibesarkan di Bushir maka beliau kemudian lebih dikenal dengan Imam Al Bushiri. Dengan qasidah Burdahnya yang fenomenal, Imam Al Bushiri mendapatkan gelar dari para ulama sebagai "Sayyidul Muddah" yang berarti "Pemimpin para Pemuji Rasulullah shollalloohu 'alaihi wa sallam".

Imam Al Bushiri sebenarnya juga memiliki karya-karya selain qasidah Burdah. Namun, Burdah telah menenggelamkan kemasyhurannya sebagai seorang sufi ahli fiqh yang memiliki banyak murid. Bahkan dalam hal ini, Imam Ibnu Hajar menyatakan, "Andaikan ia tidak memiliki karya kecuali qasidahnya yang terkenal dengan nama Al Burdah tersebut, itu sudahlah cukup mengangkat kemegahannya."

Ada kisah luar biasa dibalik qasidah Burdah ini. Konon, qasidah ini disusun oleh Imam Al Bushiri manakala ia menderita lumpuh separuh badannya. Dapat dibayangkan, bagaimana kecintaan seorang yang sakit dan bukan sembarang sakit, tapi ia masih mampu menumpahkan rasa cintanya kepada Nabi melalui rangkaian kalam syairnya dengan untaian yang sangat indah. 

Melalui qasidahnya tersebut, Imam Al Bushiri memohon syafa'at dan pertolongan kepada Allah Subhanahu wa ta'alaa agar Allah menyembuhkan sakit yang telah dideritanya. Biidznillah, Imam Al Bushiri kemudian dalam tidurnya bermimpi bertemu Rasulullah shollalloohu 'alaihi wa sallam dan Rasulullah mengusapkan tangannya yang mulia ke tubuh Imam Al Bushiri serta memberikannya burdah. Setelah mengalami kejadian tersebut, Imam Al Bushiri benar-benar sembuh dari sakitnya dan ia keluar rumah tanpa memberitahukan peristiwa itu kepada siapa pun.

Sampai akhirnya, datanglah orang-orang faqir menemui Imam Al Bushiri untuk meminta qasidah yang telah ia buat untuk memuji Rasulullah. Imam Al Bushiri bertanya,"Qasidah yang mana?". Orang faqir tersebut menjawab,"Yaitu qasidah yang engkau karang waktu engkau sakit". Dan ia melafalkan permulaannya. Kemudian sang faqir berkata, "Demi Allah, sungguh aku mendengarnya kemarin ketika disenandungkan di samping Rasulullah shollalloohu 'alaihi wa sallam dan Beliau bergerak-gerak. Dan hal itu mengherankan daku. Lalu, Nabi shollalloohu 'alaihi wa sallam memberikan burdah (selendang) kepada orang yang melantunkannya." Dan dari peristiwa ini, selanjutnya qasidah Burdah menjadi masyhur dan disenandungkan oleh segenap kaum muslimin sebagai ungkapan rasa rindu dan cinta kepada Nabi Muhammad shollalloohu 'alaihi wa sallam.

Qasidah burdah yang memiliki nama asli "Al-Kawakibud Durriyyah fi Mad-hi Khairilbariyyah" dikarang pada masa transisi kekuasaan Dinasti Ayyubiyah ke era Dinasti Mamalik Bahriyah. Masa yang penuh pergolakan politik, kemerosotan akhlak dan para pejabat pemerintah haus akan kedudukan dan kemewahan. Munculnya burdah ini seakan menjadi pelita benderang yang berusaha menyadarkan akan pentingnya menjaga rasa cinta kepada Rasulullah dan meneladani kehidupan Nabi. 

Sejak saat itu, Burdah terus turut "mengawal" peradaban bersama para muhibbin yang silih berganti di setiap zamannya. Ibnu Khaldun pernah mempersembahkan Burdah tersebut kepada penguasa muslim bernama Pangeran Abdul Qadir Al Jazairi. Saat berperang melawan Perancis, sang pangeran menuliskan satu bait Burdah di benderanya, yakni : wa man takun birasulillahi nushrotuhu, in talqohul usdu fii ajaamihaa tajimi (Barang siapa yang mengharapkan pertolongan dengan keberkahan Rasulullah, jika ia bertemu dengan harimau di hutan maka ia tidak akan diterkamnya).

Hingga saat ini, khususnya di Indonesia, Burdah sering dilantunkan dalam majlis-majlis maulid, perayaan keagaaman, majlis dzikir, pengajian, dan bahkan sekolah-sekolah. Begitu juga di Hadhramaut dan daerah Yaman lainnya, qasidah Burdah dibaca setiap subuh hari Jum’at atau ashar hari Selasa. Adapun para ulama Al-Azhar, Mesir banyak yang mengkhususkan hari Kamis untuk pembacaan Burdah sekaligus menggelar pengajian. 

Wallahu a'lam bisshowaab.

L. Fayumi


Print BeritaPrint PDFPDF

Berita Lainnya



Tinggalkan Komentar


Nama *
Email * Tidak akan diterbitkan
Url  masukkan tanpa Http:// contoh :www.m-edukasi.web.id
Komentar *
security image
 Masukkan kode diatas
 

Ada 0 komentar untuk berita ini

Forum Multimedia Edukasi  www.formulasi.or.id